“Situasi Masih Panas, 3 Provokator Ditangkap”
Indra Subagja – Detikcom
Jakarta – Perang suku kembali pecah. Setelah sempat damai, luka yang baru sembuh itu mulai bernanah lagi. Suku Tengah (Damal) terlibat bentrokan dengan suku Bawah dan Atas (Dani).
Bentrokan terjadi di Kelurahan Kwamki Lama, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, pukul 06.30 WIT Sabtu (12/8/2006).
”Situasi masih panas, 3 provokator yang memicu bentrokan sudah kita tangkap dan ditahan di Polres Mimika” kata Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Kartono, saat dihubungi detikcom, Sabtu (12/8/2006).
Hal ikhwal bentrokan muncul karena beberapa orang suku Damal yang sedang melintas dihadang beberapa orang Suku Dani. Mereka meminta uang dari orang suku Damal….
(www.detik.com)
Sayang sekali kalau kondisi damai yang udah pernah diikrarkan kembali menguap, perang suku kembali berkecamuk lagi. Itu semua dipicu oleh aksi provokatif dari beberapa oknum. Memang kurang ajar !!!
—–
Bulan ramadhan tahun yang lalu, warga komplek rumahku hampir saja bentrok dengan warga komplek tetangga. Komplek di tempatku sebenarnya adalah model cluster, dimana hanya ada satu pintu masuk dan keluar komplek serta dijaga oleh tiga orang satpam tiap harinya. Namun inilah bom waktu yang dipasang oleh pengembang, ternyata ada pintu lain di bagian belakang cluster dan ini dianggap sebagai jalan utama oleh warga komplek tetangga untuk masuk dan keluar kompleknya yang masih satu manajemen pengembang dengan komplekku. Sebenarnya ada jalan lain untuk mereka yang merupakan jalan kampung mengitari tembok samping cluster tempatku, tapi memang lebih jauh dan memutar plus jalannya jelek alias berlubang-lubang. Pihak pengembang sepertinya memang serba salah karena dua kompleks ini adalah dibawah manajemennya.
Masalah dimulai ketika sebuah motor milik warga komplekku hilang dicuri maling pada saat sholat tarawih karena memang pada saat itu kondisi lingkungan sepi. Dicurigai maling menggondol motor itu melalui pintu belakang cluster yang saat itu ternyata sedang tidak dijaga satpam dengan alasan melakukan patroli keliling. Mungkin karena emosi, salah seorang warga komplekku mengkunci gembok portal pintu belakang. Alhasil warga komplek belakang tidak bisa melalui pintu itu. Inilah yang kemudian menjadi pemicu awal keributan antar komplek. Warga belakang minta portal segera dibuka untuk jalan mereka, karena lebih dekat ke jalan utama dan lebih aman. Warga clusterku bersikeras tetap menutup portal demi keamanan lingkungan dalam cluster.
Ahad pagi, setelah subuh semua warga diminta berkumpul di sekitar pintu belakang. Aku kaget dibangunkan karena abis sahur niatnya lanjut sholat subuh terus tidur lelap. Ternyata rencana kumpul ini sudah disusun saat selesai sholat tarawih, yang mana saat itu aku absen.
Di pintu belakang ternyata sudah kumpul banyak orang, bapak-bapak warga clusterku di sisi dalam pintu dan bapak-bapak warga komplek belakang di sisi luar pintu. Ada sebuah mobil carry milik warga belakang yang dihadapkan persis di depan portal dengan niat mau ditabrakkan ke portal tersebut. Ada beberapa gundukan batu dan pecahan material bangunan yang diletakkan dekat pos satpam, sepertinya sudah disiapkan untuk alat perang nih. Gawat ! mana masih ngantuk dan nyawa belum ngumpul semua, sudah disuruh tawuran. Wah kayaknya serius nih, masing-masing warga sudah memasang wajah sangar.
Tapi alhamdulillah, karena mungkin saat itu adalah bulan ramadhan, mereka masih bisa menahan emosi. Dengan sedikit berteriak-teriak, para tokoh warga mencoba menenangkan dan diputuskan ada perwakilan dari masing-masing komplek untuk saling bicara, saling dialog. Di sinilah peran pak RT sangat luar biasa, beliau sanggup menenangkan warga dan meminta mereka menunggu hasil musyawarah perwakilan warga. Saat para wakil bersidang, warga yang menunggu ternyata sudah berbaur. Mungkin emosi mereka sudah berkurang, saling berbicara membentuk kelompok-kelompok sendiri yang intinya menyalahkan kebijakan pihak pengembang.
Musyawarah wakil warga sudah selesai, hasilnya diumumkan bahwa kedua belah warga ini merupakan tetangga yang merupakan saudara dan saling membutuhkan. Anak-anak warga komplekku banyak yang bersekolah melalui pintu belakang. Warga belakang juga banyak yang bekerja ke kantor melalui pintu ini. Diputuskan portal dibuka dengan syarat buka tutup pada waktu-waktu tertentu. Masalah ini juga akan diteruskan ke pihak pengembang untuk dicarikan solusi yang lebih permanen. Kedua belah warga saling bersalaman dan pulang kembali ke rumah masing-masing. Pada saat perjalanan pulang itu, tetangga-tetangga saling berucap, alhamdulillah tadi tidak jadi bentrokan, pasti ngga lucu banget berantem timpuk-timpukan batu ditonton ibu-ibu dan anak-anak mereka. Alhamdulillah….
Saat ini, oleh pengembang pintu belakang dibangunkan pagar besi permanen yang bisa dibuka tutup. Jam malam tutup pintu sampai dengan jam 12 malam. Jumlah satpam ditambah dan masing-masing kendaraan dari kedua belah warga diberi stiker identitas komplek untuk memudahkan pengawasan.
Dasar maling kurang ajar !!!! Bikin repot aja….